GUYURAN HIKMAH SAAT LEBURNYA RUH SUCI

DI HARI-HARI terakhir bulan suci Ramadan ini, Allah sedang “mengguyurkan hikmah” kepada para shaimin dan shaimat. Yakni, orang-orang yang mempuasakan dirinya secara lahir dan batin. Mempuasakan perutnya, mempuasakan panca inderanya, mempuasakan ucapannya, mempuasakan pikirannya, mempuasakan perasaannya, mempuasakan jiwanya, agar terbuka dari “hijab nafsu” menuju pada kesucian ruhnya.

Hijab adalah penghalang datangnya hikmah. Kegelapan yang menutupi kesucian ruh ilahiah di dalam dirinya. Yang membuat kualitas kesadarannya menurun, terkungkung dalam “kegelapan nafsu” keduniawiaan. Ruh di dalam diri kita ibarat “sumber cahaya” yang berada di dalam bola kaca jiwa. Jika bola kaca itu keruh, maka cahaya pun tidak bisa berpendar jernih menerangi jalan hidup kita.

Ketika hijab terbuka, al hikmah akan mengalir deras dari mana saja. Menyerbu memasuki samudera jiwa, dan berinteraksi dengan inti kemanusiaan – sifat-sifat keilahian yang telah bersemayam di lubuk hati yang terdalam. Yang telah menyatu di dalam ruh. Sebuah “entitas suci” yang telah dihembuskan ke dalam diri manusia oleh Sang Maha Segala di awal penciptaannya.

Proses spiritual, termasuk puasa Ramadan, adalah proses untuk menjernihkan bola kaca jiwa kita sendiri. Agar terpancar cahaya dari ruh suci yang sudah ada di kedalaman diri kita. Karena, sesungguhnya seluruh proses peribadatan yang kita lakukan itu tak lain adalah upaya untuk menjernihkan jiwa.

“Demi jiwa serta proses penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan (kecenderungan buruk) dan ketakwaan (kecenderungan baik). Sungguh akan beruntung (menang) orang yang MENSUCIKAN JIWA itu. Dan sungguh merugi (kalah) orang yang mengotorinya.” [Qs. Asy Syams (91): 7-10]

Kesucian jiwa itulah yang memberikan jalan untuk berinteraksi dengan Yang Maha Suci lagi Maha Berilmu. Dimana Dia mengutus Ruhul Qudus – sang “ruh suci” Jibril – untuk menyampaikan hikmah kepada hamba-hamba yang berserah diri hanya kepada-Nya.

“Katakanlah: Ruhul Qudus (malaikat Jibril) menurunkan (hikmah) Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [Qs. An Nahl (16): 102]

Mekanisme kemalaikatan ini menurut Al Qur’an memang menjadi salah satu mekanisme turunnya wahyu kepada manusia. Semua itu dikarenakan derajat kemanusiaan kita yang terlalu rendah di hadapan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia.

“Dan tidak ada seorang manusia pun yang Allah berkata-kata dengannya, kecuali dengan perantaraan WAHYU, atau dibelakang TABIR, atau dengan mengutus seorang UTUSAN (malaikat) yang kemudian diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia MAHA TINGGI lagi Maha Bijaksana.” [Qs. Asy Syuura (42): 51]

Di hari-hari akhir Ramadan seperti ini Allah mengutus para malaikat untuk memediasi interaksi penuh hikmah itu. Sebuah mekanisme resonansi dalam frekuensi cahaya antara ruh kemanusiaan kita, dengan ruh kemalaikatan Jibril, dan ruh Al Qur’an yang sarat hikmah.

Adalah sangat menarik, bahwa Allah menyebut Al Qur’an dengan sebutan RUH, sebagaimana manusia dan malaikat yang juga memiliki ruh. Informasi itu bisa kita peroleh dari firman berikut ini, khususnya di awal ayat yang berbunyi: “wakadzaalika auhayna ilaika ruuhan min amrina…”

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu RUH (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu CAHAYA, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [Qs. Asy Syuura (42): 52]

Sekarang cobalah PERHATIKAN dengan seksama. Inti diri manusia adalah pada RUH-nya yang bercahaya. Malaikat Jibril adalah makhluk cahaya yang disebut sebagai RUH suci yang menjadi utusan-Nya. Dan ternyata, Al Qur’an pun adalah RUH berisi hikmah-hikmah yang bercahaya. Bisakah kini Anda membayangkannya: apa yang terjadi di malam kemuliaan – Lailatul Qadr – yang penuh cahaya itu?

Frekuensi RUH kemanusiaan kita bertemu dengan frekuensi RUH kemalaikatan Jibril, dan kemudian melebur dengan frekuensi RUH Al Qur’an Al Karim. Berpendarlah lautan cahaya dalam samudera jiwa atas karunia-Nya. Itulah saat-saat terjadinya “resonansi spiritual” yang luar biasa. Saat ketiganya berada di dalam frekuensi cahaya yang sama. Bertaburanlah hikmah-hikmah tiada berhingga, sebagai karunia yang tiada putusnya bagi hamba-hamba yang merindukan Tuhannya: Allah Sang Maha Berilmu lagi Maha Bijaksana…

Tabaarakallaahu azza wajalla… Agus Mustofa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: